Al Hikam Ibnu Atthaillah [اَلْحِكَمْ اِبْنُ عَطاَءِالله] BAB : Hakikat Tawadhu [5]

 
Al Hikam Ibnu Atthaillah [اَلْحِكَمْ اِبْنُ عَطاَءِالله] BAB :  “ Hakikat Tawadhu [5] ”

ﺑِﺴْــــــــــــــــــﻢِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣِﻴْﻢِ

لَولا ميادينُ النُّفوسِ ما تحقق سيرُ الساءرين اذلا مسافةَ بينكَ وبينهُ تطْوِيهاَ رِحلتـُكَ ولا قطَعةَ بينكَ وبينهُ حتىَّ تمحُو ها وصلتـَكَ.

“ Andaikan tidak ada lapangan (medan) perjuangan melawan hawa nafsu, pasti tidak dapat terbukti perjalanan suluk menuju Allah,  sebab tidak ada jarak antaramu dengan Allah sehingga harus ditempuh dengan perjalanan, dan tidak pernah putus antara dirimu dengan Allah sehingga harus disambung dengan wushulmu.”

S y a r a h :

Syeikh Ibnu Athoillah berkata : Manusia itu dibagi menjadi dua bagian :

1. Manusia yang tidak punya perjalanan, yakni tidak berjalan menuju Allah Yaitu orang-orang yang berhenti pada lahirnya syariat, dan semua yang diperbolehkan oleh syariat, baik berat ataupun ringan menurut hawa nafsunya, tetapi mereka hanya memilih yang ringan saja, karena mengharap rukhshoh keringanan dan kemudahan syariat, dan yang demikian itu tidak bisa merubah kebiasaan nafsu dan syahwatnya.

2. Manusia yang selalu mengarahkankan hawa nafsunya kepada Allah yang Maha Raja, dan mengalahkan hawa nafsunya, mereka selalu menghadap ke-Hadhrotu-lloh, selalu sibuk memerangi dan meneliti hawa nafsunya, mereka selalu mengerjakan perintah/ perkara yang berat, dan menjauhi memilih perkara  yang ringan, dan selalu mendawamkannya sehingga nafsunya ridho dan lembut.

Syeikh Abu Usman al-Hairy berkata : Seseorang itu tidak sempurna kecuali hatinya condong pada empat perkara : 

  1. Penolakan  (tidak diberi). 
  2. Pemberian. 
  3. Kemuliaan. 
  4. Kehinaan. 

Yakni : ia dalam kondisi hina tapi merasakan kemuliaan, dan ia tidak diberi  (ditolak) tapi ia merasakan pemberian.

Hakikat hilangnya hawa nafsu dari hati yaitu: setiap saat/ nafasnya selalu cinta/ rindu bertemu dengan Allah tanpa memilih keadaan yang ada padanya, apabila murid ada tanda-tanda seperti itu dalam nafsunya benar-benar ia telah keluar dari alam jinisnya (hawa nafsu), dan sudah wushul kepada Allah. Dan apabila tanda itu belum ada pada murid maka ia harus menetapi perjalanannya.

Syeikh Abul qosim Al-Qusyaery berkata : Hakikat membunuh hawa nafsu itu ialah lepas bebas dari tipu dayanya, dan tidak memperhatikan sesuatu yang timbul dari padanya, dan menolak segala pengakuan-pengakuannya, dan tidak sibuk untuk mengaturnya, dan tetap menyerahkan segala urusannya kepada Allah Dengan melepaskan ikhtiar/ usaha dan kehendak sendiri, sehingga lenyap dan terhapus semua pengaruh  hawa nafsu itu terhadap kemanusiaannya. Adapun sisa-sisa yang berupa gambaran dan keraangka (hawa nafsu) itu tidak berbahaya.

Demikianlah jalan untuk membunuh/ mengalahkan hawa nafsu, yang dapat segera dapat mencapai Hadhrotal Qudsy sebab tidak ada jarak antaramu dengan Allah sehingga harus ditempuh dengan perjalanan, dan tidak pernah putus antara dirimu dengan Allah sehingga harus disambung dengan wushulmu, kecuali sebah hijab/ tutup berupa hawa nafsu.

Posting Komentar

thanks for your comment on 4Fatih

Lebih baru Lebih lama