Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2010

Musim Semi Telah Tiba

Summer time is just on the corner! Insya Allah sebentar lagi kehangatan sinar mentari musim panas akan kembali kita nikmati. Seolah-olah kembali berada di pelukan mentari bumi pertiwi, rasanya sudah tidak sabar menanti summer tiba. Walaupun sedang dalam musim semi, dari jendela saya masih bisa menyaksikan batang-batang pohon-pohon yang masih polos tanpa daun, bunga atau buahnya. Spring kali ini, belum juga saya menyaksikan atau mendapati putik-putik yang sedang merekah, atau pucuk-pucuk daun yang mulai menghijau, siap kembali merimbuni cabang dan ranting pohon. Biasanya dalam perjalanan pulang dari sekolahnya, saya dan si sulung akan memunguti ranting-ranting yang terlihat menarik. Atau jika masih tersisa daun kering, si sulung saya akan memungutinya untuk digunakan ‘lebih lanjut’, entah untuk sekadar disimpan di sela buku atau ditempel untuk mengetes bakat seninya. Saya akan selalu senang dan mendukungnya, ikut memilihkan daun mana yang pantas masuk dalam koleksinya, ran

Sebagai Buih, Seberapa Banyak Kita Dapat Berkontribusi Mundur?

Kasus penganiayaan yang melompat ke permukaan akhir-akhir ini, secara jangka pendek, bukan hanya harus mendorong orang untuk menyalahkan kebijakan pengizinan pengiriman TKI ke negeri Saudi.  Walau kebijakan tersebut sangat perlu dikoreksi, misalnya, pada segi format persiapan pemberangkatan, atau dengan jalan penghentian sementara atau permanen untuk transaksi tenaga kerja ke negeri tersebut, rekonstruksi jangka panjang bakal mengharuskan bangsa Indonesia untuk evaluasi diri secara total.  Mengapa peristiwa yang sifatnya orang per orang itu dapat terjadi. Apakah cukup hanya dengan menuding suatu bangsa karena mereka disandangi dengan sebuah karakter, sehingga, karena sejumlah warga negeri terkait menjadi pelaku kekerasan, yang lain langsung diberikan vonis yang sama?  Akan menjadi sahkah kalau kita digeneralisasi secara itu juga, ketika, misalnya, ada satu Gayus berjaya dan kita se-Indonesia harus menanggung beban memakai kaus pesakitan? Kalau kita siap memasukkan bangsa