Langsung ke konten utama

Syafaqoh

Syafaqah artinya lembut dan halusnya perasaan. Dalam makna positif syafaqah diartikan sebagai sikap jiwa yang selalu ingin berbuat baik dan menyantuni orang lain serta penuh kasih sayang.

Sikap seperti ini digambarkan Allah SWT dalam QS Ali Imran: 159,


”Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu Telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”


Syafaqah itu diperintahkan oleh Nabi


Rasulullah SAW adalah teladan terbaik dalam hal ini, dalam kondisi apa pun syafaqah selalu tertanam dalam hatinya yang mulia.

Banyak contoh mengenai hal ini, salah satunya adalah saat berkecamuk perang Uhud dimana kondisi kaum muslimin dalam keadaan terdesak, Rasullah sendiri luka-luka, pipinya pecah dan beberapa giginya rontok akibat tombak kaum musyrikin, beliau tetap menghiasi dirinya dengan syafaqah. Beliau menolak ketika diminta mengutuk dan menyumpahi kaum musyrikin. Beliau malah berdo’a: ”Ya Allah berilah hidayah kepada kaumku, sebab mereka itu tidak mengerti…”

Demikianlah, syafaqah menjadi ciri hati seorang mu’min. Sikap ini berlaku umum, bukan hanya diantara sesama mu’min.

Thabrani meriwayatkan bahwa pada suatu saat Rasulullah bersabda di hadapan para sahabat: ”Tidak sempurna iman kalian kecuali kalian berkasih sayang.” Mendengar hal itu salah seorang sahabat berkata: ”Kami semua telah berkasih sayang..”. Rasulullah kemudian menjelaskan: ”Sesungguhnya yang kumaksud bukanlah hanya berkasih sayang antara salah seorang kalian kepada sahabatnya (sesama mu’min), akan tetapi berkasih sayang ’aamah (secara umum)”

Sementara mereka yang berhati kejam dinilai oleh Nabi kita sebagai orang yang paling jauh dari Allah SWT. Beliau bersabda:


”Sesungguhnya manusia yang paling jauh dari AllahYang Maha Tinggi adalah orang yang berhati kejam (al-’aasi-l qolbi)”. (HR. Thabrani)


Jadi, tidak alasan bagi kita untuk tidak menghiasi diri dengan syafaqah, terlebih lagi jika kita renungkan firman Allah berikut ini,

”Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (QS. Al-Anbiya: 107).

Menempatkan Syafaqah dalam sikap yang positif


Lembut dan halusnya perasaan harus ditempatkan dalam sikap yang positif, contohnya adalah:

Menyayangi anak
Suatu saat salah seorang sahabat yang bernama Al-Aqra bin Habis At-Tamimi melihat Rasulullah menciumi cucunya dengan penuh kasih sayang, ia lalu berkata di hadapan Nabi bahwa dirinya memiliki 10 orang anak, dan tak pernah satu pun diciumnya. Nabi kemudian bersabda: ”Siapa yang tidak menyayangi, tentu tidak akan disayangi…”

Menyayangi anak—sebagai bukti adanya syafaqah—tentu harus diwujudkan pula dengan tindakan-tindakan lain seperti memberinya gizi yang cukup (2: 233), memberi pendidikan yang baik sebagaimana diperintahkan Nabi, ”Tidak ada pemberian yang paling utama yang diberikan seorang ayah kepada anaknya dari memberikan didikan yang baik (HR. Tirmizi), dlsb.

Santun dalam berbicara
Rasulullah SAW bersabda kepada istrinya, Aisyah r.a., ”Sesunggunya diantara kelompok manusia yang paling jelek kedudukannya di sisi Allah ta’ala adalah mereka yang dijauhi manusia untuk menghindari kejahatannya”.

Hadits ini diriwayatkan Bukhari, berkaitan dengan keheranan Aisyah ra. ketika melihat Rasulullah berbicara dengan lemah lembut kepada seseorang yang disebut oleh Rasullah sebagai bi’sa akhul ’asyirah (saudara kerabat yang buruk).

Peka terhadap kesulitan orang lain
Seorang muslim harus dapat merasakan suka duka yang dialami saudara-saudaranya, karena mereka hakekatnya adalah satu tubuh yang saling menguatkan.

Ibnu Abbas dalam suatu riwayat dari Baihaqi pernah diceritakan sejenak meninggalkan i’tikafnya, karena dia pernah mendengar Nabi bersabda: ”Barangsiapa pergi untuk berusaha mencukupi kebutuhan saudaranya dan berhasil, itu lebih baik daripada beri’tikaf di masjid selama sepuluh tahun. Dan barangsiapa beri’tikaf sehari dengan niat ingin memperoleh keridhoan Allah, baginya Allah akan menjadikan tiga parit lebih jauh dari dua ufuk Ttimur dan Barat yang akan memisahkannya dari neraka”.

Begitulah syafaqah diwujudkan dalam sikap yang positif. Sementara itu sifat mudah tersinggung, cepat marah, mudah kecewa juga lahir dari kelembutan dan kehalusan perasaan. Akan tetapi ini adalah syafaqah yang negatif yang harus kita jauhi.

Kiat menghaluskan perasaan


Syafaqah dapat dibentuk melalui nilai, sarana dan lingkungan pendidikan serta pembinaan, sebagaimana Rasulullah dididik dalam nilai dan lingkungan yang membuat beliau memiliki kehalusan jiwa dan perasaan.

Ada beberapa kiat yang bisa kita coba untuk mengahaluskan perasaan, diantaranya adalah:

Tingkatkanlah tilawah dan tadabbur Qur’an kita.
Banyak-banyaklah menyebut dan mengingat nama Allah dalam setiap gerak langkah hidup kita.
Perbanyaklah interaksi dengan hadits-hadits dan sirah Nabi serta riwayat para sahabat. Terutama yang berkaitan dengan kehalusan jiwa dan perasaan.
Bangun dan carilah lingkungan yang kondusif / berjama’ah dalam kebaikan.
Selalu sadar dengan hakikat kehidupan, bahwa tujuan utama kita adalah keridhoan Allah SWT, bukannya dunia yang fana ini.
Hikmah bersifat halus


Hikmah bersifat halus dan lembut yang paling nyata adalah seperti yang disebutkan firman Allah SWT dalam Qur’an surat Ali Imran ayat 159 di atas. Kelembutan akan membuat orang mendekat, sedangkan bersikap keras dan berhati kasar akan membuat orang menjauh.

Jadi sifat lemah lembut apa pun alasannya haruslah diutamakan, bahkan ketika kita berhadapan dengan orang paling ingkar sekalipun. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT,

”Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (QS. Thaha: 44)

Ayat ini adalah perintah Allah kepada Musa dan Harun untuk berdakwah kepada Fir’aun yang terkenal dengan kesombongannya yang luar biasa, yakni mengaku sebagai tuhan. Kalau kepada orang sebejad Fir’aun saja harus berlemah lembut, apalagi kepada saudara kita sesama muslim?

Tapi tentu saja ini bukan berarti menghilangkan sikap tegas dan keras pada orang yang ingkar dan melecehkan agama Allah. Harus difahami bahwa tegas dan kerasnya seorang muslim, juga karena adanya syafaqah. Mereka berjihad hanyalah untuk menyeru manusia kepada khaliq, berorientasi pada akhirat yang kekal serta menegakkan keadilan dan membebaskan manusia dari kezaliman. Mereka berdakwah dan beramar ma’ruf nahi munkar karena cinta dan kasih sayang yang tertanam dalam diri-diri mereka.

Inilah syafaqah….mudah-mudahan kita dapat memahaminya.

* * * * *

Oleh: M. Indra Kurniawan, S. Ag.
Daftar Bacaan:

Akhlak Seorang Muslim, Muhammad Al-Ghazaly
Etika Islam, Miftah Faridl
Kurikulum Tarbiyah Islamiyah II, Tim Raudhotul Jannah]

Komentar

Posting Komentar

thanks for your comment on 4Fatih

Postingan populer dari blog ini

Pantun ODOJ, One Day One Juz

Pendaftaran ODOJ di 0 8 1-741 2-1440 silahkan kirim pesan Whatsapps atau SMS Pantun ODOJ One Day One Juz, iseng-iseng disela safar sempat menulis beberapa pantun :) semoga bermanfaat dan berkenan Cawan dingin dari keramik Yang begini ulun sukanya Ikhwan ingin bidadari cantik Jam segini quran belum dibacanya Ups Sepanjang jalan kulihat aspal Ditengah2 ada putihnya ODOJ itu bukan asal Tp dilandasi niat kuatnya Ea ... Pandang pandang sambil menganga Akhi itu bukan muhrimnya Selayang pandang tentang surga Dr pintu mana kau memasukinya Ya Allah .. Kulihat Irman berpindah kota Bersepeda Tegar pergi sekolah Ini fakta bukan pantun Sekedar usil teman melamun #MusafirEfek @masminant on twitter Pendaftaran ODOJ di 0 8 1 741 2 144 0 silahkan kirim pesan Whatsapps atau SMS

Negeri yang Menua

Negeri yang Menua Mohammad Fauzil Adhim, 26 September 2017 Pertama kali ke Jepang tahun 2005, gambaran tentang pendidikan di Jepang adalah model yang sangat memperhatikan pembentukan adab pada diri anak . Kesantunan serta sikap hormat mereka sudah sangat masyhur, baik terhadap guru maupun orangtua. Jangankan yang belajar di Jepang sejak usia playgroup maupun SD hingga SMA, mereka yang kuliah di Jepang semenjak S-1 pun akan membekas pada dirinya dua sifat yang cenderung kuat: rendah hati dan menghormati senior, termasuk guru dan orangtua. Zaman berganti masa bertukar. Ketika saya berkesempatan mengunjungi Jepang lagi beberapa tahun silam, kuat terasa anak-anak muda yang cenderung meniru habis gaya Amerika, bahkan boleh jadi melebihi yang ditiru. Ini terasa betul pada anak-anak muda. Beriringan dengan itu, kian banyak perempuan yang enggan menikah dan pasangan suami-istri yang malas punya anak. Mengapa? Membesarkan anak merupakan investasi yang besar dan berat, terlalu banyak b

The Best PDF Reader: Foxit Reader 5.3.1

The Best PDF Reader, because: light fast pdf reader and small size pdf reader and of course full feature pdf reader , Whether you're a consumer, business, government agency, or educational organization, you need to read and annotate PDF documents and fill out PDF forms. You need your PDF Reader to be: Fast - read PDF files without waiting. Lightweight - PDF reader that is easily deployable and doesn't exhaust system resources. Secure - so you don't get infected with viruses and can keep sensitive information safe within your PDF documents. A Platform - so you can extend the Foxit Reader by creating your own value added capabilities for internal use or for resale. The Foxit Reader is a small, fast, and feature rich PDF viewer which allows you to open, view, and print any PDF file. Unlike other free PDF readers, Foxit Reader also includes easy to use collaboration features like the ability to add annotations to PDF, fill out PDF forms, and share information with s