-->

Mengungkap Penyebab Hanyutnya Pelajar SMPN 1 Turi di Sleman

Mengungkap Penyebab Hanyutnya Pelajar SMPN 1 Turi di Sleman


Sudah lebih dari satu jam. Tita Vhasya Pradita masih melawan arus Sungai Sempor, Turi, Sleman, Yogyakarta, kemarin sore. Via, rekan siswi 13 tahun itu, sudah kehabisan tenaga. Perjalanan tetap dilanjutkan. Mereka melihat dua adik kelasnya di SMPN 1 Turi diterjang arus. Hanyut. Tita bergegas menariknya.

 " Ada  adik kelas ada dua  orang , tangan kanan  saya  pegang yang cewek, kiri pegang yang cowok. Terus Via tak taruh di   pundak ," ujar Tita.

Perjalananan tetap dilanjutkan. Mereka saling menguatkan. Namun arus sungai kian menggila. Pegangan tangan dua adik kelasnya terlepas, begitu juga Via yang memegang pundaknya. Mereka berempat, terseret derasnya arus sungai. Terpencar. Tenggelam.

 "Saat itu sudah banjir," tuturnya.

Tita terseret arus sekitar 10 meter. Sebuah batu menyelamatkannya. Tubuhnya tersangkut di situ. Dia menangis sembari teriak meminta pertolongan. Warga mengevakuasi dan membawanya ke Puskesmas Turi.


 Dia bilang tak ada bagian tubuhnya yang terluka. Tita merupakan bagian dari 249 siswa SMPN 1 Turi yang mengikuti kegiatan Pramuka: Susur Sungai Sempor, Turi, Sleman Yogyakarta. Mereka mengalami kecelakaan. Sebagian dari mereka hanyut dan tenggelam.

 Sejak awal, kata Tita, permukaan Sungai Sempor perlahan terus meninggi.

"Dari garis start itu belum banjir tapi semakin lama air semakin naik," ungkapnya.

 Saat susur sungai, tiap siswa dikelompokkan per regu yang terdiri dari 7-8 anak. Namun dalam perjalanan, jaraknya terpaut jauh dengan posisi Kakak Pembina yang mendampingi kegiatan itu.


Hingga Sabtu (22/2/2020) siang, kata Kepala Basarnas DIY Lalu Wahyu Efendi, delapan siswa ditemukan meninggal. Mereka tenggelam dan terseret arus sungai. Selain itu, terdapat dua siswa lainnya masih dinyatakan hilang.



Peringatan Dijawab: "Mati di Tangan Tuhan" 


Tita menuturkan, saat ia dan teman-temannya mulai berjalan menyusuri sungai, seorang warga memperingatkan untuk mengurungkan kegiatan itu. Sebab dari arah utara, langit tampak mendung. Sehingga jika terjadi hujan, berpotensi debit sungai mengalami kenaikkan secara mendadak.

 Namun peringatkan itu tak diindahkan. Tita mendengar seorang Kakak Pembina yang ada di belakangnya, malah menjawab enteng peringatan warga yang sayup-sayup ia dengar dari belakang.

"Warga cuma bilang jangan susur sungai karena utara sudah banjir," kata Tita.

Lalu seorang pembina berkata,

"ya enggak apa-apa. Kalau mati di tangan Tuhan," kisah Tita menirukan kata pembinanya itu.

Pengelola outbound Desa Wisata Sempor, Dusun Dukuh, Donokerto,Turi, Sleman Dudung Laksono sempat bertemu dengan ratusan siswa dan seorang kakak pembina Pramuka. Tepatnya ketika mereka melintas di jembatan sebelum dilakukan susur sungai.

"Saya memperingatkannya. Cuma bilang kalau cuaca tidak bagus," kata lelaki 38 tahun itu. Dudung kemudian pergi, ia pikir dalam kegiatan Pramuka itu, sudah ada kakak pembina yang akan mengarahkan dan mendampingi ratusan siswa tersebut.

Namun sekitar satu jam sekitar pukul 15.00 WIB setelah ia berpapasan dan pergi, ia mendengar pengumuman dari pengeras suara masjid. Isinya ialah informasi, ada siswa yang tenggelam di sungai.

Mendengar itu Dudung bergegas berlari menuju jembatan. Di sana ia melihat ada korban yang sudah tenggelam di bawah jembatan.

"Saya mengevakuasi jenazah di situ  di bawah jembatan . Yang evakuasi itu dua orang, kemudian yang diselamatkan warga yang lain dua orang," kata dia.

Pengelola outbound di Sungai Sempor mengatakan, susur sungai harus ada pendamping dan tali darurat. Namun para siswa tak menggunakannya.


Abaikan Standar Keamanan

Dudung yang sudah lebih dari 10 tahun ikut mengelola outbound di Sungai Sempor. Sepengetahuannya, susur sungai selalu didampingi oleh timnya yang terdiri dari pemandu lokal.

Namun kata dia, kegiatan yang dilakukan siswa SMPN 1 Turi kemarin itu, tidak ada pemberitahuan sama sekali ke pihak pengelola outbond maupun balai desa.

"Tidak ada konfirmasi atau izin ke desa untuk susur sungai," katanya.

Padahal saat musim hujan seperti saat ini, sangat rawan jika dilakukan susur sungai. Terlebih saat terjadi hujan di aliran sungai atas, bagian hulu.

Saat itu memang kata Dudung kondisi belum hujan, aliran sungai rata-rata kata dia hanya setengah meter. Tetapi di wilayah hulu sungai ia melihat mendung gelap. Beberapa jam setelahnya air mulai keruh. Terjadi kenaikan muka air sungai, menjadi sekitar satu meter karena ada kiriman air hujan dari hulu.

"Kalau ada tamu, terus air keruh biasanya kami enggak membolehkan dan kita batalkan susur sungai ," katanya.

Saat susur sungai, kata Dudung, idealnya untuk standar keamanan harus ada tali yang diikatkan ke peserta. Itu untuk antisipasi, jika sewaktu-waktu hanyut atau tenggelam.

Selain itu, setiap peserta susur sungai, harus didampingi. Idealnya satu pendamping untuk lima orang.

"Biasanya pemandu kami kalau air mulai keruh kita segera lakukan evakuasi," kata dia.

Namun jumlah kakak pembina yang ikut mendampingi kata dia, tidak sebanding dengan jumlah peserta. Jumlah pembina di bawah 10 orang. Sementara siswa yang susur sungai berjumlah 249. Usai kejadian, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim, meminta seluruh sekolah lebih mengutamakan keamanan dan keselamatan siswa saat melakukan kegiatan di luar sekolah.

"Itu yang terpenting. Jadi harus dipertimbangkan secara matang," katanya di Jakarta, Sabtu.

Nadeim mengaku, sudah meminta tim Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini, Dasar, dan Menengah bersama tim dari Inspektorat Jenderal menyelidiki kejadian kecelakaan yang menimpa siswa SMPN 1 Turi di Sleman.

"Kami bersama pemerintah setempat dan pihak berwajib terjun langsung ke lapangan untuk menelusuri apa yang menyebabkan hal ini bisa terjadi," kata tuturnya.


Mengklaim Tak Tahu Ada Susur Sungai

Kepala SMPN 1 Turi Tutik Nurdiana mengatakan, kegiatan Pramuka resmi dari sekolah yang diamanatkan dalam kurikulum 2013. Kegiatan Pramuka tergolong kegiatan ekstrakurikuler yang diadakan setiap Jumat, pukul 13.30 hingga 15.30. Meski begitu, ia mengklaim, tidak mengetahui terkait adanya pelaksanaan susur sungai pada Jumat kemarin.

Ia beralasan baru menjadi kepala sekolah selama 1,5 bulan dan hanya melanjutkan program terdahulu.

"Jujur saya memang tidak mengetahui adanya program susur sungai di hari kemarin itu. Mereka tidak matur (bilang). Mereka menganggapnya hal biasa," kata Tutik.

Selain itu, pengurus sekolah menganggap, para siswa yang merupakan penduduk Turi, familiar dengan wilayah susur sungai.

Dalam kegiatan susur sungai itu, kata Tutik, peserta didampingi oleh 7 kakak pembina Pramuka yang seluruhnya merupakan guru di SMPN 1 Turi.

"Pendampingnya dari sekolah, ketujuhnya dari bapak ibu guru sekolah. Itu murni kegiatan dari sekolah," kata Tutik.


Pembina Pramuka Diperiksa Polisi

Polda DIY melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah orang atas dugaan adanya kelalaian yang mengakibatkan siswa meninggal, hilang, dan luka-luka.

Kabid Humas Polda DIY Kombes Pol Yuliyanto menyatakan yang sudah diperiksa adalah pembina Pramuka.

"Kita sudah periksa para pembina Pramuka yang ikut. Ada enam orang, untuk hasil pemeriksaan belum," kata Yuliyanto, Sabtu (22/2/2020).

Selain itu, polisi juga sudah melakukan pemeriksaan di tingkat kwartir daerah (Kwarda) Pramuka. Tujuannya untuk mengetahui tentang standard operional prosedur kegiatan Pramuka yang berisiko tinggi.

Dari hasil pemeriksaan, kata Yuliyanto, belum dapat diketahui siapa di antaranya yang bertanggung jawab penuh atas peristiwa ini. Proses pemeriksaan ini tidak akan terburu-buru.

" Sekarang pemeriksaan pembina nanti muridnya. Tapi anak muridnya masih dalam kondisi trauma," ujarnya.

Sumber : tirto.id

News Showbiz
  • Dapatkan Info Terbaru Seputar Dunia Android dan Termux
  • Dapatkan tips dan trik yang belum pernah kamu tau sebelumnya
  • Jadilah seseorang yang pintar dalam dunia teknologi

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Data Covid 19 Update

Iklan Bawah Artikel